Posted by : Hafian Kyun Rabu, 23 November 2016

Sumber Gambar : http://www.sadever.com
Hari itu, aku merasa diriku hidup tak ada artinya lagi. Kehidupan ini hanyalah membuatku terbebani. Namaku Hazegawa Namae nama yang aneh bukan? Sama seperti ayahku yang meninggalkanku bersama adik ibu ku entah kemana aku tak peduli. Dua tahun ini aku mengalami masa-masa sulit aku harus bekerja menghidupi adikku karena dua tahun lalu ibukku meninggal dan Adikku 2 tahun ini ia hanya bisa berbaring di atas ranjang Rumah Sakit karena penyakitnya Setiap hari aku mengunjungi ia,aku selalu membawakannnya sebuah novel untuk hadiah hanya agar adikku selalu tersenyum . Aku berjalan menuju rumah sakit lalu menemuinya,dikamar 301 ia hanya berbaring dan di infus lalu ia menyapaku.
“kakak,Sekolah itu asyik gak?”
“sama sekali tidak,karena aku juga tidak sekolah” Sahutku
“cobalah,mungkin kakak bisa tahu.”
“kalau kakak lebih pintar,mungkin iya ! Aku masih bodoh.”
“kakak jangan ngomong gitu,kita semua pasti bisa kok.” dengan polosnya
“ ah iya, Betul adikku yang pintar” sambil mengelus kepalanya
“Kalalu teman? Teman itu asyik gak?”
“Nonton TV, dan main game sendirian itu lebih asyik,daripada  harus tertawa walaupun lawakannya tidak lucu.”
“aku pikir teman itu asyik, karena mereka bisa membuatku tertawa walaupun memang lawakannya tidak lucu.”
“ah iya juga. aku pikir begitu..”
“oh..iya,aku mempunyai hadiah untukmu”
“wah hadiah lagi asyiiikk….”
lalu ku ambil hadiah di dalam tasku,lalu ia mengambilnya sambil membukanya sebuah novel di pegangnya.Lalu ia dengan polosnya mengucap terimakasih kepadaku lalu ia tersenyum. Kekhawatiranku seakan sirna karena senyumannya.
            Pekerjaanku sebagai seorang kuli bangunan,tetapi cukup untuk menghidupiku bersama adikku. Tapi terkadang aku hutang kepada bibiku yang ada di luar negeri,kalau aku sangat membutuhkan uang.
Tetapi kau tak ingin menyulitkannya aku menabung hanya untuk menyenanngkan adikku dengan memberikannya hadiah novel,walaupun ia selalu kuberikan sebuah novel tetapi ia selalu tersenyum dan berterimakasih kepadaku. Dan setiap harinya aku memasukki toko buku walaupun aku tak pernah membacanya. Aku tidak tahu untuk apa aku hidup. Entah apa alasannya. Aku tidak tertarik dengan orang lain. Aku ingin hidup sendiri,hanya bekerja untuk mencukupi hidupku di hari esok Ya secukupnya. Tapi aku juga selalu mengunjungi adikku,tak kenal waktu kapanpun aku selalu mengunjunginya.
Dia selalu menyukaiku,walaupun saat ibunya meninggal ia menangis didalam pelukanku. Aku tak ingin lagi adikku menangis sedih didepanku aku akan menebusnya dengan sebuah senyuman darinya. Aku dan adikku sangat berbeda, ia sangat berjuang untuk hidupnya walaupun aku selalu menyerah. Tapi Selama 2 tahun ini ia hanya bisa berbaring disini,sungguh malang nasibnya. Inginnya aku menggantikan posisi dia, dan itu tak mungkin. Hanya perasaan itulah yang membuatku tetap ingin hidup.
Di Musim dingin sangat berbeda di musim panas biasanya,sehingga aku kedinginan saat memartil paku-paku ini. Adikku sangat ingin melihat kembang api saat tahun baru,makanya aku ingin menabung lebih banyak lagi dengan melamar pekerjaan sampingan demi mewujudkan impian adikku.Suatu hari aku berjalan di depan taman,kulihat banyak anak kecil bersama orang tuanya saling bermain disana,aku sangat iri dengan mereka. Mereka mempunyai tujuan hidup,sedangkan aku? Orang tuaku telah tiada apa tujuan hidupku? Aku duduk di taman itu,lalu seorang anak kecil mengajakku bermain sambil menarik tanganku,tetapi.. awalnya aku tak ingin diajak bermain,lalu ia menangis terpaksa aku menemaninya bermain petak umpet. Lalu aku menghitung sampai sepuluh,dimataku aku hanya bisa melihat warna hitam pekat lalu setiba angka sepuluh aku membuka mataku,tercengang melihat keadaan taman yang sepi tanpa orang. Aku berfikir bahwa suatu saat nanti kita akan sendirian,kita akan meninggalkan orang yang kita sayangi dan meninggalkan apa yang kita sukai.

   Tetapi walaupun begitu,suatu saat kita tak lagi sendirian. Aku menemukanmu. Dan tawaku yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya kini terucap jelas di mulutku. Sudah saatnya aku menyadari bahwa aku teringat senyuman Adikku yang begitu tulus menyayangiku. Apakah hal itu yang membuatku terus hidup? Aku bodoh sekali baru menyadarinya. Lalu aku berfikir oh iyaa,aku bisa meminta izin kepada dokter agar aku bisa membawa adikku untuk melihat kembang api pada tahun baru nanti. Tetapi apakah kursi roda ini bisa melewati salju? Ahh aku kan bisa menggendongnya walaupun sampai sejauh apapun aku bisa menggendongnya. Aku akan membelikan barang yang disukainya lewat uang tabunganku. Mungkin aku bisa mengajakknya untuk makan di restauran yang terkenal agar ia dapat mengenangnya. Aku coba memberitahunya besok.
            Besoknya aku mulai berangkat menuju rumah sakit karena ini jam besuknya,dengan perasaan senang tak lupa aku membawakannya makanan yang disukainya yaitu Sup Udon yang sudah terbungkus plastik. Tapi,di tengah jalan aku ceroboh karena tak menyebarang dengan hati-hati aku tertabrak sebuah mobil mewah hingga aku terpental,aku hanya bisa melihat sup udon kesukaan adikku jatuh berceceran di tengah jalan lalu semuanya menghitam.Aku hanya bisa mendengar suara-suara yang kebingungan melihatku terbaring disini. Lalu mataku terbuka disampingku ada sebuah infus hingga aku teringat adikku,lalu dengan refleknya aku bangun lalu berteriak Riiinnn……!! seorang pria tua pun datang lalu mencoba menenangkanku,tapi aku terus berontak.
“tenanglah..tenanglah,ini akan baik-baik saja…”
“tetapi bagaimana tentang adikku ia juga ada dirumah sakit”
“oh adikkmu,iya aku tahu karena suster ang merawat disini kenal dengan kamu karena setiap hari kau kermuah sakit lalu ia menceritaka semua kepadaku tentang kamu,tolong dengarkan aku !”
Lalu aku pun diam…
“Sebelumnya syukurlah kamu sudah sadar,aku sangat mengkhawatirkanmu. Maaf  aku tadi tak melihatmu saat menyebrang,aku mendengar bahwa kamu seorang yatim piatu ya?” dengan menghela nafasnya

“Yahh.. hmm salahku juga sih karena aku tak hati-hati aku menjadi tertabrak untunglah aku tak apa-apa,ya aku seorang anak yatim piatu ayah yang bodoh itu meninggalkanku bersama ibuku yang sudah meninggal dan adikku yang sangat kusayangi,memang ada apa sensei menanyakan hal begitu?” jawabku

“ibumu meninggal… eto,,,  aku sangat sedih atas kematian ibumu.” Dengan mengehla nafas sekali lagi
“setiap orang pasti mempunyai alasan tersendiri nak kau suatu hari pasti akan tahu apa alasan ayahmu meninggalkanmu beserta ibu dan adikkmu. Aku ingin kau menjadi anakku tentu jika kau mau? Aku akan mencukupi kebutuhanmu dan membayar semua biaya rumah sakit ini”

“sudahlah sensei jangan khawatir,terimakasih atas tawarannya tapi sepertinya aku harus berjuang sendiri untuk sekarang,”
“apakah kau yakin tidak mau ikut denganku?”
“tentu,apakah ada keraguan di benakku?”
“baiklah kalau begitu,tetapi aku akan membayar biaya rumah sakit ini sebagai bentuk tanggung jawabku karena telah menabrakmu.”
“kalau tidak keberatan,terimakasih banyak sensei…”
Lalu ia berpaling dan meninggalkanku dengan wajah seperti kecewa tapi aku tak tahu apa yang ada di benakknya. Setelah beberapa hari dirikupun membaik,aku akan kembali bekerja. Hari ini tanggal 10 desember ya? Sebentar lagi tahun baru aku harus mengajak adikku jalan-jalan melihat kembang api. Aku sudah menemuinya saat aku sakit,seperti biasa dengan ucapan terimakasih kakak sellau terucap di mulutnya.
Hari ini dingin sekali seakan surya pun tak mampu menghangatkan tubuh ini,aku masih penasaran dengan orang tua itu sangat familiar buatku. Kenapa dia begitu peduli denganku ahh kuacuhkan saja dia. Seperti biasa hari ini adalah waktuku untuk bekerja,dengan ketergesaanku aku menabrak seoarng wanita yang kayaknya sih dia seorang penjual bunga karena dia baru saja keluar dari tokonya “bruukk…!”
sumimasen  aku benar-benar tak tahu tentang anda…”jawabku  dengan tergopoh-gopoh
“tak apa-apa aku pun juga salah” jawabnya dengan lembut

   lalu aku pun ikut membantu mengambilkan bunga yang berceceran di trotoar karenaku,tak sadar aku melihat wajahnya yang seakan mirip dengan ibukku. Ia cantik jelita wajahnya merona bersinar bagaikan mentari. Uh.. tak sadar aku dibuatnya terpaku,sampai dia menepuk bahuku “sensei..” 
“ah maaf..aku tak sengaja melamun.,aku akan kembali kesini jika kau mau aku akan berangkat bekerja”
“ah tidak apa-apa kemarilah jika kau mau aku pun selalu menyediakan tempat yang nyaman untuk tamu seperti sensei.”
“terimakasih banyak nona.” Lalu aku pun meninggalkan wanita cantik itu,aku sempat berfikir kenapa aku tak menanyakan namanya bodoh sekali aku.

Lalu janjiku untuk bertemu dia kutepati,kubel pintu rumahnya lalu aku berbincang banyak tentang dia dan menceritakan semua tentangku bersama adikku. Oh namanya ialah Aisawa Otsune,dia memanggil nama depanku selama ini tak ada yang menghormatiku seperti itu. Aku dibuat kagum dengannya ia adalah gadis tunggal sama sepertiku orang tuanya meninggal ia anak sulung yang bersama neneknya menjual bunga demi kelangsungan hidupnya.
Aku pun mengenalkannya dengan adikku kuajak dia untuk menjenguk adikku jika dia tak repot. Kami seperti keluarga yang sangat sulit dipisahkan hingga suatu saat aku tersadar,saat itu aku bersama Aisawa duduk bersama sambil berbincang di taman yang biasa kukunjungi.
“Aisawa,apa kamu mempunyai suatu masalah yang sangat rumit?”
“hmm…
mungkin sebuah harapan untuk pergi kuliah”
“oh begitu.. aku pun mempunyai masalah kebingungan tentang tujuan hidupku,untuk apa aku hidup sedangkan aku sendirian berusaha.”
tiba-tiba ia meraih tanganku…
“tidak,kau tidak sendirian menurutku tujuan hidup ini adalah membahagiakan orang yang spesial buat kita”
“orang spesial?” tanyaku sambil tersipu malu
“iya,menurutku orang spesial ialah orang yang kita anggap lebih dalam arti menyayanginya ataupun membahagiakannya. Itulah tujuanku kenapa aku ingin kuliah karena aku ingin membahagiakan ibu dan ayahku disana,tak lupa nenekku yang sekarang sangat menyayangiku tentunya hehe..” sambil tertawa kecil
“maukah kamu menemaniku saat tahun baru nanti kita bersama akan melihat kembang api.”
“asyik pastinya,iya aku mau.” Jawabnya dengan senang
Impian….
Manusia pasti mempunyai impian,ya benar apa yang dikatakan Aisawa tujuan hidpuku adalah mendapatkan senyuman dari orang yang sangat kusayangi.
Paginya seperti biasa aku terbangun dari tempat tidurku bergegegas karena malamnya aku ingin pergi bersama Aisawa dan Adikku. “Ahh.. apa yang harus kubawa untuk Aisawa nanti ya.” Tak biasanya aku berdandan rapi seperti ini apakah aku sedang jatuh cinta?
Lalu aku memeriksa semua isi didalam lemari ataupun yang lainnya,tak kusangka aku menemukan sebuah foto ibuku bersama…
“Inikan… ORANG TUA ituu…? Apakah dia ayahku..”
lalu aku menemukan sebuah secarik surat yang berisi
            “Suzu.. Aku sebenarnya sangat menyayangimu apalagi anak kita kedua sudah lahir tetapi orang tuaku tak menyetujui hubungan kita. Suzu… mohon maaf sekali apabila aku tak bisa membesarkan anak kita,tolong besarkan anak-anakku.”
Mungkin aku sudah salah paham dengan ayahku yang bodoh itu ,tetapi kesedihanku tertunda karena…
ada secarik kertas lagi dibaliknya
            “dan…. Untukmu yang akan lahir dan yang sudah lahir,jika ayahmu ada disampingmu bersiaplah ! aku akan menyayangimu,memarahimu dan mengajarkan apa yang aku tahu.
Pertama… Lahirlah dengan sehat,lalu aku akan mengajarkanmu tata krama kepada orang tuamu
Kedua… Patuhilah nasehat ibumu yang membesarkanmu,yang melahirkanmu
Ketiga… Aku ingin kau menjadi kebanggaan Ayahmu
Aku dan ibumu sangat mencintaimu. Apabila ayahmu tak ada tolong jangan buat ibumu menangis sedih bahagiakanlah ibumu nak… dan Kau kakak jangan membuat adikmu menangis ya hehe aku juga menyayangi kalian semua.
End”

Benar-benar KAU AYAH YANG BODOH, kenapa tidak dari awal kau mengaku saja !! “
walaupun aku mengatakan begitu tetapi tangisanku tak bisa kubendung….
Malampun tiba..
aku mengajak adikku pergi bersama walaupun ia tak diizinkan oleh dokter karena penyakitnya tetapi aku diam-diam menggendongnya pergi menuju ke rumah Aisawa dan melihat kembang api.Karena aku yakin ia akan sembuh setelah terkabul keinginan yang sangat terpendam olehnya. Pertama aku mengujungi rumah Aisawa dia berpakaian cantik sekali membuatku terpana,kami bertiga jalan bersama ku gendong adikku,lalu dia tertawa bahagia. Aku menuju taman yang biasa,jam menunjukan pukul 22.59
“wah kurang 1 menit lagi,ayo Aisawa kita mulai menghitung.”
1…2….3… SELAMAT TAHUN BARU. “Preet preet” suara terompet terdengar dimana-mana,kemerkahan kembang api membuat adikku terpukau “waaahhhh.. Kakak lihat,lihat itu kembang api sughoii …” aku tersenyum lebar melihat mereka berdua tersenyum,kurasa mereka itu adalah orang specialku untuk itu aku harus menyayangi dan melindungi mereka dan karena sekarang aku…
 tak sendirian lagi…

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Ranah Coretan - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -