Posted by : Hafian Kyun Kamis, 24 November 2016

Sumber Gambar : http://data.whicdn.com/

Jika aku diatas awan itu aku mungkin akan bermain,berlompat-lompat diatas awan itu. Tetapi kehidupanku yang miskin membuat diriku hampir terlena dengan buaian yang fana.
“Kue….Kue !! Kue Mas..Kue Mbak?”
Setiap pagi bukannya aku kesekolah tetapi aku harus membantu ibuku menjualkan kuenya,sisanya jika tak habis maka aku akan membawanya ke kantin sekolah untuk menjualnya. SD Suka Maju itu adalah sekolahku yang kutempuh dengan jarak 2 km karena aku tak punya uang untuk membeli sepedah yang sudah lama kuinginkan,ibuku dan ayahku sebenarnya bekerja,ayahku seorang mandor tetapi karena ia sering sakit-sakitan sekarang dia menjadi pekerja serabutan. Ibuku menjaga warungnya yang sepi oleh pembeli biasanya jika untung sehari ia bisa mendapatkan uang hanya Rp.100.000 itu pun dipotong dengan harga penjualan yang harus diberikan sebagiannya di pengepul. Pernah sesekali aku hanya makan nasi dengan sambal terong yang ditanam dikebun belakang dibumbui garam dan cinta ibuku “Yummy” terasa nikmat rasanya walaupun sederhana. Itu pun jika terongnya sudah masak.Namaku Dini Afrianti mungkin karena ayahku bernama Dafri dan ibuku bernama Yanti. Aku menyayangi mereka berdua,membesarkanku sampai-sampai mereka rela berhutang demi membayar SPP sekolahku.
            Pagi itu aku menjualkan jajananku tiba-tiba seseorang bersepeda montor yang ugal-ugalan hampir saja menabrakku sehingga jajanan kueku yang tak terbungkus jatuh ketanah,aku menangis ketakutan bagaimana ini,aku tak menyangka menjadi sekotor ini kueku terkena lumpur. Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri yang tak bisa menjaga kueku agar tetap di tampahku. Aku merasa sedikit frustasi apalagi bajuku yang kotor aku juga takut akan di tertawai oleh teman-temanku. Apakah aku harus bolos sekolah dan tak pulang kerumah hari ini,tidak,apakah aku akan bertindak bodoh. Tidak.. Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku. Lalu aku pergi kesekolah.
            Kemudian tiba-tiba seseorang memanggilku “Din…” suara itu sepertinya Rini teman akrabku dia seorang anak pengusaha sukses mobilnya yang dua itu,aku pernah pergi kerumahnya yang besar megah seperti istana. Namun orang tuanya seakan menganggap Rini hanya sebuah boneka yang tak pernah ia hiraukan. “Ada apa rin,kelihatannya kok sedih banget kenapa?” Sahutku
“Loh kenapa bajumu din,kok kotor gitu?” sambil melihat bajuku
“Tadi di jalan,aku hampir terserempet montor rin,dan kueku kotor semua jadi aku membuangnya” kataku sambil memperlihatkan muka cemberutku
“Yang sabar ya din,emang kurang ajar tuh bisa-bisanya nabrak temenku. Kalo boleh aku beli semua kuemu gmana?” jawabnya
“G-Gak usah lah rin,emang ini semua tanggung jawabku biar aku yang nanggung semua !”
“Alah kamu itu mesti gitu lo,nih kalo begitu buat hadiah saja sebagai temenku yang baik hati” sambil mengayunkan tanggannya yang membawa uang sepuluh ribu
“M-Makasih bgt rin,aku emang butuh tapi apakah ini gak merepotkanmu uang jajanmu gimana?” Jawabku dengan polos
“Alah gak apa-apa,kata guru agama jika kita diberi rezeki terima aja deh”
“Makasih,Alhamdulillah sekarang aku bisa memberi ibuku uang.” Jawabku dengan gembira
(KRIIIINGG !!)  Bel masuk pun berbunyi kami segera berbaris lalu memasuki kelas masing-masing.
            Saat istirahat biasanya aku makan dengan bekalku  yang sederhana bersama Rini,
“Tempe lagi din?” tanya Rini
“I-Iya,hehehe gak apa-apa kok ini enak lo buatanku sendiri !”
“Wah bener ya? Hmm ini aku juga punya seseuatu untukmu ini buatanku omelet cinta haha” jawabnya dengan tawanya
“Wah makash..”
Di tengah pembicaraanku tiba-tiba seorang temanku  mengambil omelet yang akan di berikan kepadaku. Dia bisa dibilang teman yang jahat selalu menjahiliku mengolokku tetapi Rini selalu membelaku. Namanya Santi walaupun dia anak orang miskin sepertiku tetapi sikap sombongnya tak tertandingi karena ia mempunyai banyak teman yang mendukung tingkahnya itu.
“Eh elu anak miskin bisa-bisanya makan makanan yang beginian,ini cocoknya nih buat gue?” teriaknya sambil melihat kalungku
“Eh kalung ini bagus amat gue boleh pinjem?” sahutnya sekali lagi
“Lu tau diri dong lu itu juga miskin? Elu ngatain temen gue sama aja lu ngatain gue mau lu gue aduin ke guru?” balas Rini
“Silahkan aduin sana mana gue takut,yuk kabur kawan !” jawab Santi
Lalu mereka kabur tanpa ada rasa bersalah pun pada Dini,lalu Rini pun mencoba untuk menghiburku.
“Din,kamu gak usah sedih ya?”
“Gak kok rin,aku tegar kok.”dengan senyumku
Sebenarnya hatiku sangat hancur ketika Santi mengolokku dengan kata miskin itu, Andai saja aku seperti Rini pastilah aku bahagia namun aku tiba-tiba teringat orang tuaku yang selalu berjuang mendidikku membesarkanku walaupun ujian bertabu-tabu menghemparkan kami. Lalu aku dan Rini kembali ke kelas masing-masing. Sesaat aku merasakan ingin buang air kecil lalu aku pergi ke toilet sebentar.
Setelah itu aku masuk ke kelas dengan suasana yang suram mencengkam semua orang melihatku dengan mata sinisnya. Ada apa ini? Apakah ada gempa atau apapun? Lalu tiba-tiba Santi berteriak “Itu Bu !! dia kan tadi bersama Rini pasti dia pelakunya !”
EHHH !!! Ada apa ini. Lalu temanku membawaku kedepan kursi yang berhadapan dengan guruku. Llau guruku mencoba mengintrogasiku.
“Din.. temanmu Rini telah kehilangan uang sakunya yang tidak besar Rp.50.000 apakah kamu mengambilnya?”
Deggg 111 Serasa jantungku berhenti berdetak,bisa-bisanya aku dituduh begini. Ya Allah apa salahku lalu kucoba menahan tangisku. Seakan tak bisa kutahan air mataku menetes. Sambil berteriak seperti anak kecil,aku sangat malu saat itu.
“TIDAAAKK,AKU TIDAK MENGAMBILNYA !!!” teriakku
Lalu santi mengelakku “Kamu kan tadi bersama Rini Din.. ngaku sajalah lu!!” balas Santi
Lalu tiba-tiba Rini berteriak
“TIDAK MUNGKIN---,Tidak mungkin temanku ini mengambil uangku aku tidak hanya bersamanya tetapi tadi aku juga melihat santi dan teman-temannya kenapa tak introgasi mereka bu !”
“tii—DAK,aku benar-benar tidak mengambilnya kok” balas Santi
Lalu tiba-tiba sangking ketakutannya ia mundur ke belakang sehingga dompet Rini pun terjatuh dari sakunya.
“Itu punyaku !! emang bener KAMU YANG NGAMBILNYA !”
Setelah itu Santi pun dimarahi habis-habisan oleh guru,lalu aku pulang. Walaupun memang bukan aku yang mengambil uang Rini tetapi hal itu membuatku trauma Rini memang anak yang baik,tetapi aku mungkin hanya membebani Rini. Aku berjalan di pimggir jalan lalu aku melihat langit diatasku jika aku disana pasti sangat menyenangkan. Melompat-lompat bagaikan putri tetapi hal itu hanya menghayalkan. Tiba-tiba tak sadar seseorang menjatuhkan dompet,lalu tanpa pikir panjang aku mengambilnya. Tak kusangka ternyata itu copet semua orang hampir menghajarku,tetapi untungnya seseorang bapak sepertinya pemilik dompet ini melerai semua orang yang hampir menghajarku.
“Sudah,sudah bukan anak ini yang mencuri dompetku tadi. Dek apakah kamu baik-baik saja?”
“I-Iya” jawabku dengan polos
“Kelihatnnnya kamu kelaparan mau aku traktir,?”
“Gak-Usah repot-repot pak”
Lalu tiba-tiba dia menarikku kulihat dia adalah orang baik-baik,lalu aku di berhentikan di tempat restauran yang terkenal di kota ini. Apakah aku pantas bahkan bajuku masih kotor begini. Lalu dia memintaku  untuk memesan menu apapun kesukaanku.Sambil memandangikuku dia kelihatan sedih
“Dek,mungkin saja anakku sekarang berumur sepertimu,tumbuh cantik sepertimu.” Gumamnya
“Maaf pak,memangnya bapak tidak mempunyai anak?” Jawabku
“Hah…” dia sedikit menghela nafasnya
“Bapak ceritakan,dulu aku senang sekali ketika anakku lahir aku ditelpon oleh dokter untuk segera ke rumah sakit,tetapi aku sedang ada urusan di kantorku sehingga aku tak bisa keluar. Tetapi aku nekat untuk mengunjungi rumah sakit,aku bolos rapat. Lalu aku pergi,tetapi---“ Sambil menangis
“Maaf pak,aku membuat bapak menangis.” Jawabku
“Ti-Tidak apa-apa aku hanya mengingat kembali kejadian itu membuatku trauma memiliki anak lagi dan sekarang anak angkatku saja tidak pernah aku urus aku seperti merasa sangat berdosa. Istriku dan aku kaget ketika itu,anakku hilang telah dicuri oleh seseorang yang tak bertanggung jawab. Selama 7 hari pencarian tak ketemu-ketemu akhirnya kami pun menyerah dan meminta anak yatim piatu menjadi anakku dan sangking stressnya—Istriku meninggal” jawabnya dengan menahan tangis
Kelihatannya aku telah membuat bapak ini menangis lalu tiba-tiba ia kaget melihat kalungku yang menyila di leherku.
“INI !! Di—Dimana kau mendapatkan ini?” Tanyanya
“Ini pemberian orang tuaku satu-satunya saat aku kecil bagus ya?”
“Oh.. I-iya aku rasa,agak familiar dengan kalung ini?”
Lalu kami berbincang-bincang banyak tentang aku dan bapak ini bernama Rony Subdiyo. Dia bapak yang baik hati,rela mengantarkan ku pulang kerumah dengan mobilnya mungkin anaknya itu sama baik hatinya dengan bapak ini. Lalu orang tuaku menyambutku dengan rasa cemas mungkin karena aku telah pergi berjam-jam sehingga ortuku cemas.
“Terimakasih nak,anda siapa?” tanya ibuku
“Hmm..
Aku hanya kebetulan aja ketemu dia bu,dia anak yang baik sehingga aku mengajaknya makan. Ini buat sedekah” lalu dia mengantungkan sebuah kresek berisi ayam opor kesukaanku
“Terimakasih pak,gak usah repot-repot deh maaf merepotkan anak saya” Sambil diam-diam mengambil opor ayam itu
Hmm memang Pak Rony itu seorang yang baik hati,aku pun bisa makan malam bersama dengan makanan kesukaanku sehingga aku merasa hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Setelah selesai Sholat isak aku pun tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan ayahku di ruang tamu.
“Pak,gimana anak kita? Dia sudah besar aku tak ingin anak kita sengsara karena kita dan kita sudah menyengsarakan orang lain karena ini,apakah kita harus memberitahu Dini tentang semua ini?”
“Tak usah bu suatu hari nanti Dini akan tahu semuanya,aku juga kasihan melihat Dini terus sengsara seperti ini aku harus mengembalikannya”
Lalu (BRAAK…) aku pun berlari menuju kamarku sambil menggebrakkan pintu sehingga ayah dan ibuku kaget. Mendatangiku sambil bergumam “Apakah pembicaraan tadi didengar Dini,DIN !!” Aku tak menjawabnya mereka meneriakiku aku hanya tidur tengkurap dengan kepalaku terutup oleh bantal,ujian apalagi yang kurasakan akus udah banyak mendapatkan ujian ini tapi apa maksud dari perkataan ibuku ini apakah ibuku dan ayahku benar-benar orang tuaku. Aku terus memikirkan itu. Lalu aku mulai tersadar,kalung ini apakah kalung ini ada kaitannya dengan orang tuaku. Aku harus menanyakannya kepada ortuku.
“Ibu.. Ayah,aku ingin kalian jujur kepadaku”
“N-Nak aku rasa kamu sudah saatnya untuk mengetahui ini,aku dan ayahmu ini bukannlah ibu dan ayahmu yang asli,kami hanya manusia kotor yang menginginkan anak sehingga kami pun mencuri kamu dari salah satu orang yang baru melahirkan. Kami menyayangimu sampai kami menghutang agar dapat memberikan kamu susu. Tolonglah percayalah kami hanya ingin mengadopsimu menyayangimu.”
Lalu sesaat aku merasa perasaanku serasa disakiti seperti tertusuk oleh pedang tapi masih sakit ini,aku terpuruk tak dapat menahan tangisku hingga orang tuaku tak sanggup menghentikan tangisku hingga aku tertidur.
Paginya pun pemikiranku masih seperti malam itu,mungkin sifat kebocahanku masih ada sehingga aku kabur dari rumah dan mendatangi tempat yang biasanya menjadi renunganku,dibukit yang hijau merona angin yang sepoi-sepoi membuat hatiku tenang kembali dan memikirkan lagi itu semua “Diatas Langit Masih Ada Langit” Itulah yang ada di benakku,kenapa aku harus sedih aku kan masih memiliki kelurga yang sangat menyayangiku walupun sebenarnya mereka bukan keluargaku. Tiba-tiba seseorang dari kejauhan tampak seperti seorang ayah dan anak ternyata itu bapak Rony bersama Rini ngapain dia disini,oh iya Rini kan tahu tentang tempat perneunganku,karena aku telah mengajaknya. Lalu Pak Rony pun memelukku sambil menangis dan berkata “ Aku berjanji-Aku Berjanji” aku tak tahu apa maksud dari perkataan pak Rony itu lalu dia menjelaskan semua dan ternyata Pak Rony itu adalah ayahku yang sebenarnya.

Aku berjanji menyayangimu,mencintaimu,dan menjagamu walupun langit memang masih tinggi aku akan tetap diatas awan ini.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Ranah Coretan - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -